NEWS

11 July 2019

Film Kisah Film Keluarga Cemara Buat Warga Jepang Terharu



OKINAWA, KOMPAS.com — Film Keluarga Cemara mendapatkan undangan spesial untuk diputarkan di Okinawa Internasional Film Festival 2019 yang berlangsung di Okinawa, Jepang mulai 18-21 April 2019 lalu. Sang sutradara, Yandy Laurens dan kedua pemain yakni, Widuri Putri Sasono dan Widi Mulia “Be3” turut hadir dalam festival tahunan di Okinawa tersebut. Acara dimulai dengan pembukaan di mana semua teaser film-film dari Asia yang dalam festival ini diputar di Ana Crowne Plaza, Okinawa pada Jumat (18/4/2019) sore. Pada Jumat malam, pemutaran Keluarga Cemara dilakukan di Sakurazaka Theater, Okinawa. Sutradara dan pemain dihadirkan setelah pemutaran film usai. Sebagai sutradara, Yandy mengaku sangat bangga melihat filmnya mendapat sambutan dari warga Jepang dan warga Indonesia yang tinggal di Okinawa merasa tersentuh menonton Keluarga Cemara. “Sempat deg-degan, mereka bisa engaged enggak ya, kan beda budaya. Ternyata engaged banget, banyak yang nangis dan relate dengan cerita-cerita tentang keluarga mereka,” ucap Yandy kepada Kompas.com. Yandy menuturkan beberapa penonton mengatakan bahwa Keluarga Cemara berhasil membangkitkan kembali rasa ingin bertemu dengan keluarga. “Beberapa dari mereka juga jadi ingat kampung halaman, ya, rumah saya juga begitu, banyak sawah, apa gitu. Ya senang, pertemuan Keluarga Cemara dengan penonton di Okinawa sangat hangat,” kata Yandy. Sementara menurut pemeran Cemara, Widuri Putri, awalnya ia sempat bertanya-tanya mengapa setelah menonton film yang dibintanginya, penonton menitikkan air matanya. “Kalau aku lihat banyak yang nangis dulunya aku pikirnya orang nangis karena filmnya jelek. Sekarang aku berpikir orang sedih karena filmnya sedih, emosional,” ungkap Widuri.

Terbawa perasaan
Ditemui usai pemutaran Keluarga Cemara, seorang warga Okinawa bernama Haruka Konabe mengatakan ia tidak bisa menahan tangis ketika menyaksikan film itu. Selain terharu karena kisah dalam filmnya, Haruka juga terharu dengan lagu soundtrack dari film produksi Visinema Pictures tersebut. “Lagunya mirip seperti lagu dari Okinawa zaman dulu. Dan melodinya membuat saya terbawa suasana,” ujar Haruka. Hal lain yang membuatnya merasa dekat dengan kisah Keluarga Cemara adalah adanya kesamaan budaya antara Okinawa dan Indonesia. Dalam film ditampilkan bagaimana keluarga Abah yang baru pindah mendapatkan doa dari warga sekitar. Haruka mengatakan bahwa budaya ini sama dengan budaya di Okinawa. “Tadi ada juga budaya yang sama dengan Okinawa. Biasanya orang yang datang akan dijamu dan tamu yang mendoakan. Jadi sama budayanya, kalau Tokyo mungkin berbeda, tapi Okinawa sangat sama,” kata Haruka. Haruka juga sempat bertemu langsung dengan Widuri, pemeran karakter Ara. Ia memuji artis cilik itu. “Dia sangat lucu dan berbakat ya,” kata Haruka.

Kata sutradara
Sang sutradara, Yandy Laurens tak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena film arahannya mendapat respons positif dari masyarakat Okinawa. “Satu kesenangan yang istilahnya bias menggugurkan semua kekhawatiran” ungkap Yandy. Terlebih pesan dari Keluarga Cemara begitu mengena di hati masyarakat Okinawa meski berbeda Negara dan budaya.

“Ketika melihat penonton bisa menikmati film ini, dan tahu ada harapan paling tidak, kalau mereka pulang setelah menikmati Keluarga Cemara, mereka bisa menikmati keluarganya,” kata Yandy. “Ketika itu terjadi di negara lain, oke, ada doa yang tulus yang semoga pulang bisa lebih menikmati keluarga keluarga di rumah. Itu ketulusan yang menggugurkan kata-kata ‘iya, film kita kepilih nih,’ yaitu orang yang bisa dapat sesuatu setelah nonton film ini,” tutur Yandy.